Toxic Positivity

Di tengah keberadaan media sosial di masa sekarang, tidak jarang kita menemukan influencer, teman-teman, keluarga, atau bahkan diri kita sendiri posting mengenai “sikap positif” atau memiliki “pandangan positif tentang hidup, di setiap saat”. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering kali menemukan hal-hal tersebut. Meskipun niatnya mungkin baik, terlalu banyak memaksakan hal positif di setiap kondisi sebenarnya tidak membantu dan malah memunculkan perilaku toxic positivity.

Toxic positivity adalah sebuah istilah yang menggambarkan pola pikir dan perilaku seseorang yang hanya terpaku pada kebahagiaan dan pandangan yang optimis saja (Primastiwi, 2020). Orang-orang dengan keyakinan ini percaya bahwa sesulit apapun kondisi atau situasi yang dialami, orang tersebut tetap harus memiliki pola pikir yang positif. Mereka akan memilih untuk mengabaikan atau menyangkal masalah dalam hidup mereka dan tanpa disadari hal-hal tersebut dapat berdampak buruk untuk kesehatan mental mereka secara keseluruhan (Cherry, 2021; Lukin, 2019).

Memiliki sikap yang positif atau optimis memanglah penting. Meski begitu, perlu diingat juga bahwa hidup tidak selalu baik. Berbagai pengalaman menyenangkan dan pengalaman menyedihkan terjadi dalam hidup setiap orang, sehingga ada kalanya kita sebagai manusia juga sewajarnya akan merasakan emosi negatif.

Menyangkal atau menolak perasaan negatif membuat perasaan tersebut menjadi semakin besar dan akan memunculkan pemikiran bahwa kita tidak perlu memperhatikan hal tersebut. Hal tersebut dapat membuat emosi negatif semakin besar karena diabaikan dan tidak diproses dengan sesuai, sehingga dapat menjadi bom waktu di waktu mendatang. Selain itu, orang yang mengabaikan perasaan negatifnya dapat terlihat kurang simpatik dan kurang peka terhadap perasaan orang lain.

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk memberikan semangat atau bersimpati pada orang lain dan diri sendiri?

Pertama, kamu perlu mengidentifikasi emosi yang sedang kamu rasakan. Tidak ada emosi baik dan buruk, melainkan ada emosi positif dan negatif. Semua emosi yang kamu rasakan adalah valid dan penting.

Kedua, sadari bahwa setiap emosi yang kamu rasakan dapat membantu kamu dan orang di sekitarmu untuk lebih memahami perasaan yang sebenarnya sedang kamu rasakan.

Terakhir, pikirkan cara yang tepat untuk mengeluarkan emosimu secara produktif, seperti menceritakan masalahmu dengan teman atau orang terdekat, menulis jurnal, atau berolahraga.

Jika disimpulkan, toxic positivity dapat mengakibatkan seseorang menghadapi perasaan negatif dengan cara yang salah yaitu dengan mengabaikannya. Padahal sikap ini justru malah dapat membuat perasaan negatif tersebut menjadi lebih besar. Meskipun berpikir secara positif dan optimis adalah hal yang dibutuhkan dalam kehidupan, sejatinya tidak ada orang yang bisa berpikir positif setiap saat. Memaksakan seseorang untuk menjadi positif secara terus menerus bukanlah merupakan hal yang benar karena dapat mengurangi kemampuan berkomunikasi dan mengakibatkan orang tersebut gagal memahami pikiran atau perasaan negatifnya.

Apabila Anda atau kerabat Anda membutuhkan bantuan profesional yang dapat dipercaya, silakan menghubungi Kayross Psikologi Utama untuk mendapatkan konseling dari psikolog yang memiliki ijin praktik resmi dari HIMPSI.

(By: Regina, S. Psi.)

Sumber:

Cherry, K. (2021, February 01). Why Toxic Positivity Can Be So Harmful. Retrieved April

11, 2021, from https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-positivity-5093958#how-to-avoid-toxic-positivity

Lukin, K. (2019, August 01). Toxic Positivity: Don’t Always Look on the Bright Side.

Retrieved April 8, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-man-cave/201908/toxic-positivity-dont-always-look-the-bright-side

Primastiwi, E. (2020, July 18). Tentang toxic positivity dan dampaknya pada kesehatan mental kita. Whiteboard Journal. Retrieved from https://www.whiteboardjournal.com/ideas/human-interest/tentang-toxicpositivity-dan-dampaknya-pada-kesehatan-mental-kita/