Gangguan Kesehatan Mental Akibat Teknologi

Teknologi sudah menjadi bagian kegiatan keseharian tiap orang, terutama dalam era digital ini. Mulai dari penggunaan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, mendengarkan lagu, menonton acara hiburan, mencari informasi, sampai belanja kebutuhan sehari-hari. Kemajuan teknologi memang diperuntukan agar memudahkan kehidupan manusia, namun seringkali kita kemudian menjadi terlalu bergantung dengan teknologi.

1-internet-userPada Januari 2019, Hootsuite (sebuah situs yang melakukan penelitian terhadap konten di jaringan internet) mencatat bahwa total populasi pengguna internet dan teknologi di Indonesia adalah 268,2 juta orang. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sekitar 3 juta populasi sejak tahun 2018. Rata-rata waktu setiap hari menggunakan internet melalui perangkat apa pun adalah 8 jam 36 menit. Hal ini menunjukkan bahwa tiap individu di Indonesia menghabiskan lebih dari 35% waktunya dalam sehari untuk menggunakan internet. Seharusnya waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan, berkumpul dengan keluarga, mengerjakan hobi atau aktivitas outdoor, olahraga dan sebagainya.

Hootsuite-We-are-Social-Indonesian-Digital-Report-2019-4-Waktu-penggunaan-media-di-Indonesia-tahun-2019

Tanpa disangka hal yang seharusnya membantu kehidupan kita menjadi lebih mudah, justru juga dapat memberikan pengaruh negatif dalam kehidupan kita, bahkan juga menjadi pemicu timbulnya gangguan pada kesehatan mental kita. Beberapa gangguan kesehatan mental yang dapat muncul akibat penggunaan teknologi terlalu berlebihan adalah sebagai berikut:

  1. Insomnia

Tanpa kita sadari, kita pun sering menghabiskan waktu untuk memeriksa sosial media atau menonton video streaming hingga lupa waktu. Mata yang selalu fokus ke layar gadget akan membuat kita semakin sulit untuk terlelap atau tidur, akibat cahaya yang terlalu terang. Pada akhirnya tanpa disadari habit tidur larut malam atau sulit tidur menjadi terbentuk, karena selalu menghabiskan waktu dengan gadget.

  1. Nomophobia

Istilah Nomophobia adalah kependekan dari no mobile phone phobia, yang artinya ketakutan tidak memiliki akses ke telepon genggam atau handphone. Faktanya, 66% warga Inggris diketahui mengalami  Nomophobia (cnnindonesia.com, 2016). Frekuensi memeriksa handphone menjadi tinggi dan mulai cemas ketika individu tersebut terpisah sesaat dari handphone miliknya.

  1. Social Media Anxiety Disorder

Istilah ini menggambarkan kondisi individu yang terpengaruh oleh sosial media, sehingga hal tersebut memengaruhi self-esteem dan meningkatkan kecemasan pada seseorang. Untuk lengkapnya dapat dilihat pada artikel kami di link berikut.

  1. Depresi

Penulisan status di sosial media dapat menimbulkan banyak respon dari warganet. Responnya pun bervariasi, mulai dari yang positif sampai negatif. Banyak juga yang akhirnya mengarah ke cyber-bullying. Hal ini dapat membawa individu atau korban dari cyber-bullying yang tidak mampu menghadapi komentar negatif menjadi cemas, kemudian mengarah ke kondisi depresi. Selengkapnya dapat dilihat pada artikel kami di link berikut.

Masih banyak gangguan kesehatan mental yang dapat diakibatkan dari penggunaan teknologi yang berlebihan. Umumnya gangguan ini mudah menyerang pada individu dengan usia remaja sampai usia individu produktif, yaitu sekitar 10-40 tahun. Selain munculnya gangguan kesehatan mental, banyak juga kasus-kasus yang terjadi akibat penggunaan teknologi yang terlalu berlebihan. Seperti misalnya penipuan, penghasutan, penyebaran berita palsu dan sebagainya

HappyFamilyOutsideSegala sesuatu yang penggunaannya berlebihan tentunya dapat membawa dampak negatif bagi siapa saja, termasuk juga penggunaan teknologi. Walau demikian, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membatasi atau membentengi diri kita dari gangguan kesehatan mental tersebut. Hal tersebut adalah:

  • Membatasi diri atau kontrol diri dalam penggunaan teknologi. Pastikan Anda memanfaatkan teknologi untuk hal-hal penting, kemudian berikan batasan waktu pada diri Anda. Misalnya ingin menonton hiburan melalui layanan video streaming, kontrol diri dengan menentukan batas waktunya.
  • Biasakan untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan outdoor atau aktivitas yang tidak melibatkan teknologi. Misalnya, olahraga atau melakukan hobi lain yang melibatkan aktivitas fisik, seperti travelling dan sebagainya.
  • Biasakan untuk menyediakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan teman secara rutin. Habiskan waktu dengan berbicara secara langsung atau tatap muka tanpa adanya gangguan dari gadget. Tidak perlu sibuk dengan memperbaharui status atau story ketika sedang quality time.

Tentunya masih banyak hal lain yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penggunaan teknologi yang terlalu berlebihan. Namun, pertanyaannya adalah apakah Anda mau melakukannya atau tidak?

Mari kita sama-sama menjaga kesehatan mental dengan menciptakan kebiasaan hidup yang lebih baik.

(By: Luisa Munster, M. Psi., Psikolog.)

Sumber:

Advertisements