Cara Mengasuh Anak yang Tepat

Pola asuh adalah pola sikap atau perlakuan orangtua terhadap anak yang dapat memberikan pengaruh tersendiri terhadap perilaku anak, seperti terhadap kompetensi emosional, sosial, dan intelektual.

Teori pola asuh pertama kali disusun oleh Diana Baumrind (1991), berdasarkan pada dua dimensi yaitu responsiveness (kehangatan) dan demandingness (kontrol). Responsiveness termasuk di dalamnya penerimaan atas keadaan anak (acceptance), melakukan komunikasi dua arah, memberikan kehangatan, kasih sayang, hingga memenuhi permintaan anak.  Sedangkan demandingness lebih kearah mengontrol, menuntut, menerapkan kedisiplinan atau memberikan konsekuensi kepada anak. Menurut Baumrind (dalam Yusuf, 2012) terdapat tiga tipe pola asuh yaitu authoritative (otoritatif/demokratis), authoritarian (otoriter), dan permissive (permisif).

Bagaimana bentuk pola asuh demokratis ?

otoritatifOrangtua yang menerapkan pola asuh otoritatif/demokratis akan memiliki sikap “responsiveness” dan “demandingness yang tinggi terhadap anak. Orangtua akan bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, sambil memberikan kontrol. Meskipun orangtua memberikan tuntutan atau kontrol yang tinggi, komunikasi antara anak dan orangtua tetap terjalin secara dua arah. Orangtua menjelaskan alasan di balik kontrol yang diberikan, dampak perbuatan baik dan buruk, serta tetap aktif mendengarkan pendapat anak. Anak diberi kesempatan untuk memilih dan belajar mempertanggung jawabkannya.

Pola asuh demokratis akan membuat anak mudah mengekspresikan cinta dan kasih sayang kepada lingkungannya, karena sikap responsif dan penerimaan yang diterima anak dari orangtuanya. Anak juga lebih mampu berpikir positif mengenai dirinya, optimis, dan bertanggung jawab.

Bagaimana bentuk pola asuh otoriter ?

otoriterOrangtua yang menerapkan pola pengasuhan otoriter akan memiliki sikap “responsiveness” yang rendah, tetapi “demandingness yang tinggi terhadap anak. Penerimaan orangtua terhadap kondisi anak rendah, namun kontrol atau kendali terhadap anak sangat tinggi. Orangtua suka menghukum secara fisik, bersifat memerintah atau memberi komando, kaku/keras, cenderung emosional, dan banyak penolakan. Orangtua juga kurang menjalin komunikasi dua arah atau kurang memiliki kedekatan secara afektif terhadap anak.

Tentunya pola asuh otoriter akan berdampak kurang baik pada anak, terutama dalam pengendalian emosi. Hal ini karena, pola asuh yang diterima anak di rumah cenderung emosional dan keras. Anak merasa kurang nyaman, mengalami tekanan, mudah stres, cemas, emosi kurang stabil, penakut, pendiam, dan lebih mudah terpengaruh lingkungan untuk melakukan pelanggaran norma sosial. Anak pun kurang berani dalam mengambil keputusan, karena merasa orangtua yang akan selalu mengatur dirinya dan kendali masa depan ada pada orangtuanya.

Bagaimana bentuk pola asuh permisif ?

permissive parentingBentuk pola asuh permisif terjadi ketika orangtua menerapkan responsiveness” yang tinggi,  tetapi “demandingnessyang rendah. Anak terlalu banyak diberi kebebasan untuk menyatakan dorongan dan keinginannya, serta diberi berbagai fasilitas yang melebihi kebutuhannya.

Pola asuh permisif juga dapat membuat anak menjadi tidak patuh, manja, kurang mandiri, dan egois. Sehingga ketika anak dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya, anak akan mudah marah, menangis, hingga tantrum. Pada saat dewasa, ia dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pengendalian diri rendah.

Jadi, pola asuh mana yang paling tepat ?

Bentuk pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang paling tepat untuk diterapkan pada anak. Tidak terlalu mengendalikan anak, namun juga tidak terlalu permisif. Orangtua yang dapat berlaku bijaksana, tentunya akan membuat anak dapat bertumbuh dengan konsep diri yang baik dan positif. Jika orangtua ingin belajar menerapkan pola asuh demokratis namun kurang paham langkah-langkahnya, silakan berkonsultasi dengan kami.  

(By: S. R. Wahyuningtyas, M. Psi., Psikolog)

 

Sumber:

Baumrind, D. (1991). The Influence Of Parenting Style On Adolescent Competence And Substance Use. Journal of Early Adolescence. 11. 1. 59-95.

Santrock, J. (2007). Remaja, Edisi 11 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Yusuf, S. (2012). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Advertisements