Nomophobia

Ada yang pernah mendengar istilah NOMOPHOBIA?

Istilah NOMOPHOBIA merupakan kependekan dari NO MObile PHone PhOBIA, yang digunakan untuk menjelaskan kondisi psikologis seseorang yang merasa takut atau khawatir saat tidak dapat mengakses telepon genggamnya (Bhattacharya, Bashar, Srivastava & Singh, 2016). Semakin canggih telepon genggam atau smartphone yang kita miliki, terkadang membuat kita semakin sulit melepaskan diri dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini dapat terlihat dari data penggunaan jaringan internet di telepon genggam atau smartphone yang pernah diteliti pada tahun 2019 di sini.

Masalah ini sudah terjadi secara global. Kenyataannya kita memang sangat bergantung pada gawai atau smartphone untuk kegiatan keseharian kita. Ditambah lagi pada masa pandemi yang mengharuskan kita semua melakukan kegiatan secara virtual atau digital. Tentu tidak mengherankan jika kita merasa cemas atau khawatir saat kita terpisah atau kehilangan gawai atau smartphone kita.

Istilah NOMOPHOBIA ini pertama kali digunakan oleh penelitian yang dilakukan di Inggris pada tahun 2008. Penelitian tersebut menyatakan bahwa 53% penduduk Inggris yang menggunakan telepon genggam akan merasa cemas saat mereka kehilangan telepon genggamnya, atau saat kehabisan baterai atau pulsa , atau saat tidak mendapatkan jaringan yang baik (dalam Bhattacharya, Bashar, Srivastava & Singh, 2019).

NOMOPHOBIA merupakan jenis fobia yang terjadi di masa modern karena meningkatkan ketergantungan pada teknologi. Umumnya fobia ini terjadi pada individu usia remaja dan dewasa muda. Walau jenis fobia ini belum ditemukan penyebabnya secara spesifik, namun NOMOPHOBIA ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Peneliti menemukan bahwa individu yang rentan terhadap fobia ini adalah individu yang memiliki penilaian negatif terhadap dirinya sendiri, kepercayaan diri rendah, usia yang masih terlalu muda, impulsif dan individu yang sangat membutuhkan perhatian (Bianchi & Phillips, 2005).

Berikut adalah beberapa gejala dan tanda yang dapat terlihat pada individu dengan kasus NOMOPHOBIA (Bhattacharya, Bashar, Srivastava & Singh, 2019):

  • Kecemasan
  • Adanya gangguan dalam bernapas
  • Tangan gemetar karena cemas
  • Berkeringat berlebih akibat cemas
  • Gelisah
  • Disorientasi atau tidak mampu merespon lingkungan sekitar
  • Detak jantung melebihi 100 kali per menit

Walau begitu Anda tidak perlu cemas apabila Anda atau kerabat Anda mengalami fobia ini. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani fobia ini, yaitu:

  • Perbanyak kegiatan outdoor, untuk membiasakan diri beraktivitas fisik atau membiarkan tubuh bergerak lebih banyak. Misalnya, berolahraga seperti lari pagi atau bersepeda.
  • Terutama untuk individu usia remaja dan dewasa muda, mereka perlu banyak melakukan aktivitas yang memiliki banyak interaksi sosial, agar mereka dapat menyalurkan energi mereka yang besar dan lebih banyak interaksi dengan dunia nyata daripada dunia maya.
  • Apabila fobia sudah berada di tahap yang lebih serius, konseling dengan psikolog klinis atau psikiater sangatlah diperlukan. Jika diperlukan, pemberian terapi juga dapat dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Walaupun saat ini situasi dunia mengharuskan kita untuk banyak menggunakan gawai karena menjaga jarak dengan orang lain dan mengurangi aktivitas di kerumunan, namun penggunaan gawai atau smartphone secara terus menerus dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental kita. Mengurangi penggunaan gawai dan tetap berinteraksi dengan dunia nyata perlu dilakukan untuk menjaga kondisi mental kita agar tetap sehat.

(By: Luisa Munster, M. Psi., Psikolog)

Sumber:

(2016). The International Journal of Indian Psychology, 3 (4), No. 82. RED’SHINE Publication. Inc. 

Bhattacharya, Bashar, Srivastava & Singh. (2019). NOMOPHOBIA: NO Mobile PHone PhoBIA. Journal of Family Medicine and Primary Care, 8 (4), 1297 – 1300.

Bianchi, A. & Phillips, J. G. (2005). Psychological predictors of problem mobile phone use, 8 (1), 39 – 51.