Waspada Stunting Pada Anak

Pernahkah Anda melihat tubuh anak yang terlihat lebih kurus atau lebih pendek daripada anak-anak seusianya?

Benarkah karena pengaruh faktor genetik saja?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang tertinggi di dunia selain negara-negara Afrika, yaitu lebih dari 30% anak usia di bawah 5 tahun mengalami stunting (UNICEF, 2020). Stunting merupakan masalah pertumbuhan berat dan tinggi badan yang kurang dikarenakan oleh asupan gizi yang kurang dalam kurun waktu yang lama. Pada 1000 hari pertama kehidupan anak merupakan masa yang sangat penting untuk perkembangannya, baik secara fisik dan mental. Oleh karena itu, asupan gizi yang seimbang sangat diperlukan bagi anak-anak usia 5 tahun ke bawah.

Apa saja gejala stunting?

Sumber: Okezone Lifestyle
  1. Badan anak lebih pendek daripada anak-anak seusianya.
  2. Anak tampak lebih muda daripada usianya meskipun proporsi berat dan tinggi badan tubuh normal.
  3. Berat badan berada di bawah batas normal dan pertumbuhan tulang terhambat.

Perlu diketahui bahwa penyebabnya terutama karena faktor lingkungan, yaitu kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, penyakit pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Dampaknya bukan hanya pada individu tersebut tetapi juga pada komunitas, yaitu timbulnya generasi yang kurang produktif. Menurut WHO (2020), hal ini akan berdampak pada anak secara jangka pendek maupun panjang, antara lain:

Dampak jangka pendek

  • Peningkatan risiko sakit dan kematian
  • Kurang optimal dalam perkembangan kognitif, motorik dan verbal pada anak
  • Alokasi biaya kesehatan meningkat.

Dampak jangka panjang

  • Tinggi badan kurang dari tinggi rata-rata orang saat dewasa
  • Risiko obesitas, diabetes, dan penyakit lainnya meningkat disebabkan oleh gangguan metabolisme
  • Kesehatan reproduksi menurun
  • Kemampuan belajar dan performa akademik kurang optimal saat sekolah
  • Produktivitas kerja kurang optimal.

Secara khusus, stunting memiliki dampak psikologis terhadap anak-anak sejak berusia kurang dari 2 tahun. Dampak dari stunting sulit untuk ditangani karena mengakibatkan keterlambatan dalam perkembangan anak, terutama yang terjadi sejak dalam kandungan. Dampak psikologis pada anak meliputi keterlambatan perkembangan motorik, kerusakan pada fungsi kognitif dan performa akademik yang rendah (UNICEF, 2020).

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting pada anak?

Pertama, ibu perlu mengedukasi diri dengan informasi gizi sebanyak-banyaknya serta menjalani pola hidup sehat saat hamil dan menyusui. Lakukan perencanaan dan persiapan yang matang sebelum memiliki buah hati, sehingga anak dapat bertumbuh kembang dengan optimal.

Kedua, ibu harus memastikan asupan gizi anak melalui konsumsi makanan. Kenalkan anak pada berbagai pilihan makanan sehat dan bergizi, serta hindari makanan yang gizinya tidak seimbang.

Ketiga, keluarga perlu bersama-sama menjaga kebersihan dalam mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Dengan edukasi dan perencanaan yang baik, niscaya orang tua dapat memberikan yang terbaik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya.

Apabila Anda atau kerabat yang memiliki masalah tumbuh kembang pada anak, konsultasikan masalah ini pada dokter anak atau psikolog klinis anak. Silakan menghubungi Kayross Psikologi Utama untuk melakukan konseling dan terapi dengan psikolog bagi Anda yang memiliki anak dengan masalah tumbuh kembang.

(by: Felicia, M. Psi., Psikolog.)

Sumber:

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. (2018, Semester I). “Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia” dalam Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Diunduh dari https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/buletin/Buletin-Stunting-2018.pdf

UNICEF (2020). Malnutrition. Diunduh dari https://data.unicef.org/topic/nutrition/malnutrition/

World Health Organization. (2014). WHA Global Nutrition Targets 2025: Stunting Policy Brief. Diunduh dari https://www.who.int/nutrition/topics/globaltargets_stunting_policybrief.pdf