Apakah PSIKOPAT itu?

Baru-baru ini pada awal Januari 2020, kita dikejutkan dengan kasus RS, salah satu WNI yang sedang kuliah di negara Inggris dan melakukan pemerkosaan terbesar sepanjang sejarah Inggris. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di Inggris. Melalui berita yang beredar, sejak awal persidangan kasusnya, RS secara konsisten mengatakan hubungan seksual dilakukan atas dasar suka sama suka. Walaupun terungkap fakta di pengadilan bahwa para korban tidak sadarkan diri (sumber: bbc.com).

Apa yang terjadi pada kasus tersebut menarik untuk diperbincangkan. Bagaimana seseorang bisa tidak merasa bersalah atas perilakunya yang merugikan maupun menyakiti orang lain ? Ia pun konsisten meyakini dirinya tidak bersalah. Lantas banyak orang menyebutnya dengan “psikopat”. Sebenarnya apakah psikopat itu ?

Secara garis besar dalam Diagnostic and Statistic of Manual of Mental Disorder V (DSM V), dijelaskan mengenai gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian adalah : An enduring pattern of inner experience and behavior that deviates markedly from the expectation of an individual’s culture, is pervasive and inflexible, has an onset in adolescence or early adulthood, is stable over time, and leads to distress or impairment. Dalam Bahasa Indonesia: Pola pengalaman dan perilaku batin yang bertahan lama yang menyimpang dari ekspektasi budaya individu, bersifat menetap dan tidak fleksibel, memiliki permulaan pada masa remaja atau awal masa dewasa, stabil dari waktu ke waktu, dan mengarah pada masalah atau gangguan.

images (3)

Gangguan kepribadian kemudian dibagi ke dalam 3 kelompok (cluster). Kelompok A yaitu gangguan kepribadian paranoid, schizotypal dan schizoid. Lalu Kelompok B yang terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, borderline, histrionic, dan narsistik. Serta terakhir Kelompok C yang terdiri dari gangguan kepribadian avoidant, dependent, dan obsessive-compulsive. Psikopat adalah nama lain dari gangguan kepribadian Antisosial, yang mana penipuan dan manipulasi menjadi pusat tampilan dalam gangguan ini. Adapun syarat untuk bisa dikategorikan dalam gangguan ini adalah sebagai berikut:

  1. Individu harus berusia minimal 18 tahun dan memiliki catatan buruk perilaku sejak usia 15 tahun.
  2. Individu gagal untuk mengikuti norma sosial yang berlaku. Misalnya secara berulang melakukan hal-hal yang dianggap melawan hukum, seperti merusak, menghina orang lain, mencuri dan lain-lain tanpa mempedulikan perasaan maupun hak orang lain. Ia juga seringkali menipu dan memanipulasi orang lain untuk mendapatkan hal-hal yang ia inginkan atau kesenangan pribadi, contohnya untuk mendapatkan uang, kepuasan seksual maupun kekuasaan tertentu.
  3. Individu akan cenderung berbicara bohong, misalnya dengan menggunakan nama lain (alias), atau berpura-pura.
  4. Dalam mengambil keputusan, individu tersebut cenderung melakukannya tanpa pemikiran panjang akan efeknya bagi diri maupun orang lain. Ia juga cenderung mudah terganggu dan sensitif terhadap orang lain, sehingga ia mudah melakukan kekerasan fisik apabila ia tidak menyukainya (misalnya: melakukan KDRT, dll).
  5. Individu ini juga menunjukkan tindakan ceroboh baik untuk dirinya maupun orang lain, serta terlibat dalam kegiatan yang sifatnya beresiko tinggi, seperti penyalahgunaan narkoba maupun perilaku seksual tertentu.
  6. Secara konsisten adalah orang yang tidak bertanggungjawab secara ekstrim (misalnya dalam pekerjaan, keuangan, dll)
  7. Cenderung acuh tak acuh atau membuat rasionalisasi semaunya saat dirinya merasa tersakiti, terluka, atau diperlakukan tidak baik oleh oran lain. Individu cenderung menyalahkan orang lain.

Orang-orang dengan gangguan antisosial ini sulit memiliki rasa empati, cenderung sombong dan bersikap sinis, tidak peduli bahkan menghina apa yang dialami orang lain. Dalam relasi seksual, orang-orang dengan gangguan antisosial biasanya bersikap sewenang-wenang dan kurang menghargai pasangannya. Mereka umumnya melakukan hubungan seksual dengan banyak orang dan jarang sekali ditemukan memiliki hubungan yang sifatnya menetap (monogamy). Apabila menjadi orangtua, individu antisosial cenderung kurang bertanggung jawab, misalnya dalam perawatan anaknya sendiri. Ia sulit bertahan dalam suatu situasi, mudah bosan dan memiliki mood yang menurun.

Dalam sebuah riset yang berjudul; “Psychopathy and the cinema: Fact or Fiction?”(tahun 2013), Psikiater Belgia Profesor Samuel Leidstedt bersama rekan menyampaikan bahwa kita bisa mendapat gambaran mengenai psikopat melalui film, namun tidak semuanya benar-benar menggambarkan seorang psikopat yang nyata. Pada film seringkali psikopat (“Hollywood Psychopath”) digambarkan sebagai orang dengan tingkat intelegensi tinggi, gaya pakaian yang stylist, memiliki prestise dalam pekerjaan, seorang yang tenang, penuh kalkulasi dan terkendali dalam sikap. Mereka seringkali digambarkan melakukan kekerasan yang tidak realistis. Padahal hal-hal itu tidak selalu terjadi pada psikopat sebenarnya.

Menurut Leidsteidt, film yang dianggap paling mendekati tanda-tanda psikopat di dunia nyata adalah karakter Anton Chigurh pada film No Country For Old Men karya Coen Brothers (tahun 2007). Ada cukup informasi tentang argumen dan perilaku di dalam film tersebut yang menggambarkan seseorang dengan  diagnosa psikopat aktif. Ciri yang digambarkan: idiopathic, tidak memiliki cukup kapasitas untuk mencintai, ketidakmampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu, tidak adanya rasa malu, sikap yang dingin, tidak punya rasa belas kasihan, memiliki determinasi tinggi, namun kurang berempati terhadap sekitar.  Anda juga dapat mengamati contoh perilaku psikopat menarik lain dalam film Wall Street (1987) pada karakter Gordon Gekko, dengan sikap manipulatifnya.

Nah, sejauh mana RS masuk dalam kategori Psikopat? Ataukah anda memiliki kenalan yang menampilkan ciri demikian ? Tentunya perlu analisa seseorang yang memang professional di bidangnya untuk dapat betul-betul menentukan diagnosa gangguan kepribadian ini. Berkonsultasilah pada seorang dokter spesialis kejiwaan (psikiater) atau psikolog klinis, agar tidak sampai salah menentukan diagnosa.

(By : Ellia Feeber, M. Psi)

  1. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-50976435
  2. http://www.sakkyndig.com/psykologi/artvit/leistedt2013.pdf
  3. American Psychiatric Association. (2013). DSM V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V). Washington, DC : American Psychiatric Association.