Perlukah Kursus atau Les Untuk Anak?

Setiap orang tua pasti mengharapkan perkembangan yang optimal dari putra-putrinya. Hal ini membuat orang tua seringkali berupaya membekali putra-putrinya dengan berbagai keterampilan atau mengasah bakat dan minat anak sedini mungkin, baik dalam performa akademik maupun dalam berbagai bidang lainnya. Hal ini membuat semakin hari semakin banyak ditemukan lembaga kursus atau les untuk anak.

Berbagai kegiatan dirancang untuk memenuhi kebutuhan anak, mulai dari bimbingan belajar untuk menunjang akademik, kursus calistung, les musik, les menggambar, dan sebagainya (dalam kompas.com, 2019). Sering juga anak usia sekolah dasar memiliki jadwal kegiatan yang padat dan durasi aktivitas yang melebihi jadwal kerja orang dewasa, misalnya mulai dari sekolah pukul 7 pagi dan selesai les atau kegiatan lainnya pukul 7 hingga 8 malam. Tak jarang hal ini juga membuat anak merasa kelelahan, tidak nyaman dan menjadi terbeban. Penelitian dilakukan oleh D. Sharon Wheeler dan dipublikasikan dalam Taylor and Francis Journal Sport, Education, and Society justru menemukan terlalu banyak ekskul atau kegiatan di luar sekolah akan memberikan resiko lebih banyak daripada manfaatnya (dalam kompas.com, 2018).

Namun, pada sebagian anak kegiatan kursus atau les tambahan memang diperlukan. Terdapat beberapa kondisi yang umumnya menjadi pertimbangan bagi orang tua untuk memberikan les tambahan, antara lain:

  1. Kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah

handwriting-kidsTidak semua anak dapat memahami atau menangkap materi saat diberikan penjelasan secara bersama-sama dalam kelas. Hal ini membuat anak akhirnya sulit menyerap informasi yang disampaikan dan perlu mengejar materi yang tertinggal. Dalam kondisi ini, suasana belajar pada kegiatan les dalam kelompok kecil atau privat, akan membuat anak lebih dapat memperoleh penjelasan yang dibutuhkan dan lebih leluasa untuk bertanya. Kegiatan les tambahan ini diharapkan dapat juga membantu anak saat perlu mempersiapkan diri menghadapi materi baru yang dipelajarinya.

  1. Anak membutuhkan pendampingan saat belajar

Beberapa anak tidak nyaman belajar sendirian, sebagian lainnya masih belum mampu untuk belajar secara mandiri. Beberapa anak merasa lebih tenang dan bersemangat jika ada yang menemaninya saat belajar. Di sekolah, ia bisa belajar bersama teman-temannya. Tapi untuk tugas atau pekerjaan rumah, ia menjadi kurang tertarik untuk menyelesaikannya.

Pada dasarnya, jika ayah atau ibu mampu mendampinginya belajar dan mengerjakan tugas rumah, akan lebih baik untuk melakukannya sendiri, tidak harus menggunakan jasa les tambahan. Gunakanlah jasa les tambahan tersebut jika orang tua sudah mengalami kesulitan, misalnya karena kurang memahami pelajaran tersebut atau kurang dapat konsisten dalam memberikan pendampingan.

  1. Anak membutuhkan ketrampilan khusus dan mengembangkan minat

Pada beberapa anak, terdapat kondisi yang membuat anak membutuhkan latihan yang intens untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, agar anak dapat fasih berbahasa asing, mengembangkan minat pada bidang musik, olahraga, dsb. Dalam hal ini, les tambahan dapat menjadi wadah untuk memberikan stimulasi yang sesuai demi mencapai tujuan yang diharapkan sesuai minat dan kemampuan anak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memberikan les tambahan bagi anak:

  • Sesuaikan dengan kebutuhan anak

Orang tua perlu memilih dengan bijaksana saat hendak memberikan les tambahan bagi anak. Lakukan dengan pertimbangan bahwa les tersebut memang dibutuhkan oleh anak, bukan hanya sekedar untuk menghabiskan waktu. Selain itu, mengajak anak berdiskusi juga menjadi hal yang penting dalam menentukan pilihan, mengenai les atau kursus akademik yang akan diikuti. Lakukan juga diskusi dengan pihak lainnya, misalnya guru di sekolah. Orang tua dapat menanyakan mengenai kesulitannya di sekolah, kendala yang dialami, kesungguhan anak untuk mengikuti les, serta metode les yang akan diikuti, misalnya bimbingan belajar berkelompok atau privat.

  • Orang tua tetap terlibat dalam setiap proses yang dilakukan anak

parents and kids studyOrang tua adalah figur utama yang harus memahami perkembangan anak-anaknya. Pada dasarnya, orang tua adalah “guru” yang baik bagi anak-anaknya. Sekalipun orang tua memberikan kepercayaan pada guru les untuk mendampingi anak belajar, orang tua tetap harus memantau perkembangannya dan setiap proses yang dilalui anak.

  • Tetap memiliki waktu untuk bermain dan beristirahat

Anak-anak tetap memiliki hak untuk bermain dan menikmati masa kanak-kanak sesuai perkembangan usianya. Ia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat atau bersantai sejenak setelah mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Hal ini akan berdampak pada perkembangan emosi positif dalam diri anak.

  • Fokus dan konsisten dalam menjalankan latihan

Orang tua sebaiknya berusaha untuk memberikan dukungan agar anak mau menjalankan les atau kegiatan kursus dengan tekun dan konsisten. Misalnya, tidak membiasakan anak untuk datang ke tempat kursus hanya saat ada tes atau PR saja. Jika anak merasa tertekan, tidak bersemangat untuk datang ke tempat les, berusaha mencari alasan untuk tidak les, artinya bahwa orang tua perlu mengevaluasi efektivitas les tersebut.

 

Berdasarkan informasi yang sudah diuraikan di atas, orang tua diharapkan dapat melakukan evaluasi kembali, perlukah les tambahan yang selama ini dijalankan anak dan seberapa efektif prosesnya untuk perkembangan anak. Orang tua juga perlu mempertimbangkan agar orang tua sendiri tetap dapat berperan dalam setiap proses belajar anak. Dukungan dan arahan positif dari orang tua dan lingkungan akan membuat anak berkembang lebih optimal. Untuk memudahkan orang tua dalam mengetahui arah potensi anak, Kayross Psikologi Utama siap membantu dalam memberikan jasa psikotes potensi dan konseling.

(By: Ivon Hartato, M. Psi.)

 

Sumber: