Psikolog atau Psikiater ?

Masih banyak orang yang sulit membedakan antara psikolog dan psikiater. Jika ada orang yang dianggap mengalami stress berkepanjangan, kita sering meledeknya dengan perkataan “kayaknya kamu perlu berobat ke psikiater deh”. Atau ketika kita menganjurkan teman untuk pergi ke psikolog, maka dia akan berkomentar “memangnya saya gila apa ?”. Hal ini terjadi mungkin karena masih kurangnya pengenalan akan kedua profesi ini secara meluas.

Psikiater berlatar belakang ilmu pasti. Ia adalah seorang dokter yang mengambil spesialisasi psikiatri atau ilmu jiwa. Artinya ia harus lulus fakultas kedokteran dahulu, menjadi dokter umum, lalu mengambil spesialisasi atau setara dengan program S2. Dalam kedokteran, kita mengenal adanya dokter spesialis anak, dokter spesialis mata, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis jiwa (psikiater), dsb. Karena latar belakangnya adalah ilmu medis, maka yang dilakukan oleh psikiater terhadap pasien nya adalah terapi medis atau terapi obat. Psikiater berhak mengeluarkan resep obat karena ia adalah seorang dokter.

Sedangkan psikolog berlatar belakang ilmu sosial. Ia adalah seorang lulusan fakultas psikologi, menjadi sarjana psikologi, kemudian mengambil profesi psikolog atau setara dengan program S2 untuk bisa disebut sebagai Psikolog. Dalam profesi psikologi pun dikenal adanya spesialisasi, seperti  psikolog anak, psikolog industri-organisasi, psikolog sosial, psikolog pendidikan, psikolog klinis (patologis kejiwaan), dsb. Seorang psikolog bukanlah dokter, sehingga ia tidak berhak mengeluarkan resep obat.

Jika mau disandingkan, mungkin yang lebih mirip adalah psikolog klinis dan psikiater. Mereka sama-sama bisa praktik di Rumah Sakit dan bisa menangani pasien ganguan mental atau kejiwaan.Yang berbeda adalah cara penanganannya. Psikolog klinis akan fokus kepada pengobatan psikis individu melalui pengenalan pribadi dan dukungan sosial, misalnya melalui assessment, terapi psikis, terapi keluarga, konseling, dll. Sementara psikiater akan fokus kepada pengobatan fisik individu melalui pemberian obat atau terapi fisik. Tentu hasil terbaik akan dicapai jika psikolog klinis dan psikiater dapat memberikan pengobatan dan terapi secara terpadu.

Namun fungsi dari psikolog bukan hanya menangani individu yang mengalami gangguan mental. Jaman sekarang, untuk masuk ke sekolah tertentu atau ke perusahaan tertentu, tes psikologi atau psikotes sering menjadi persyaratan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi kecerdasan, sikap belajar/kerja dan kepribadian orang tersebut. Kecerdasan termasuk pada aspek mental seseorang, karenanya orang yang kecerdasan nya rendah disebut dengan retardasi mental.

Psikologi mempelajari berbagai aspek kehidupan manusia yang terkait dengan perilaku, sikap dan kepribadian manusia. Termasuk juga tugas perkembangan dari mulai anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Peran psikolog dalam memaksimalkan tumbuh kembang anak pun saat ini sangat dibutuhkan. Banyak anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan penanganan dengan segera agar bisa berkembang dengan baik.

Oleh sebab itu, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada psikolog. Hanya psikolog klinis yang berhak menangani individu dengan gangguan mental atau abnormal. Sementara psikolog lain yang jumlahnya lebih banyak, justru menangani individu normal yang hendak mengembangkan potensi dirinya agar bisa berprestasi dan bahagia dalam hidupnya.

Ingin mengembangkan anak sesuai potensi kecerdasan dan gaya belajarnya? Ingin mencari jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat anda ? Ingin mengetahui bagaimana mengembangkan karir yang tepat sesuai kompetensi anda ? Silakan berkonsultasi kepada psikolog. Jangan salah alamat ke psikiater ya untuk hal itu. (by : Diana M. Sani, M.Psi, Psikolog)

Advertisements