Siapa di sini yang memiliki saudara kandung? Kakak, adik, baik laki-laki maupun perempuan. Coba kita kilas balik ke masa kecil bersama, momen bermain, makan, tidur bahkan pertikaian-pertikaian yang pernah dialami. Apakah kalian tahu, bahwa ada fenomena yang bernama “Sibling Rivalry”? Bukan sekedar pertengkaran biasa, tapi fenomena ini merupakan bentuk kompetisi, rasa cemburu hingga timbul permusuhan antar saudara kandung. Fenomena ini sebenarnya cukup umum dan bersifat universal, namun jika tidak dikelola dengan baik, dapat berkembang menjadi konflik yang berkepanjangan dan berdampak hingga dewasa.

Fenomena ini biasanya lebih sering terjadi pada saudara kandung dengan jarak usia yang tergolong dekat (kurang dari 3 tahun). Hal ini dikarenakan mereka berbagi milestone perkembangan yang kurang lebih setara. Sehingga sisi rivalitas antar satu sama lain dalam berkegiatan cenderung lebih tinggi. Fenomena yang sering terjadi bisa berbentuk saling mengejek (verbal), memukul dan mendorong (fisik) serta berbentuk upaya mencari perhatian terus menerus kepada orang tua (psikologis). Unik ya, bagaimana anak-anak sedari kecil sudah memiliki dinamika fenomena yang sangat kompleks.
Gender juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi loh! Siblings rivalry lebih intens dialami pada saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama. Biasanya dalam pencapaian di kegiatan yang sama atau kepemilikan benda. Namun tipe siblings rivalry terjadi pada saudara kandung dengan jenis kelamin berbeda. Mereka akan cenderung berusaha merebutkan perhatian dari orang tua dengan pembuktian peran gender mereka masing-masing.
Faktor-faktor yang memengaruhi siblings rivalry ada apa saja ya? Mari coba kita telaah satu per satu :
- Temperamen : kepribadian yang drastis antar anak dapat membuat persaingan dan perselisihan semakin intens.
- Kebutuhan khusus : jika salah satu anak membutuhkan perhatian medis, pendidikan, atau dengan kondisi tertentu yang membuat orang tua memiliki kesan memprioritaskan satu anak, anak lain dapat merasa lebih tertinggal.
- Pola asuh : gaya orang tua menerapkan pola asuh pada anak sangat mempengaruhi dinamika hubungan dan perilaku anak.
- Stres keluarga : masalah keuangan atau perceraian juga cenderung meningkatkan kemungkinan konflik antar saudara.

Nah setelah kita memahami tentang faktor-faktor yang mempengaruhi siblings rivalry, kita lebih dapat memahami kondisi yang terjadi nih teman-teman. Jadi apa solusinya ya kira-kira terutama bagi para orang tua muda nih?
- Sadari bahwa peran orang tua sangat esensial. Hindari membandingkan anak-anak. Masing-masing memiliki keunikan, kelebihan dan identitasnya masing-masing.
- Berikan mereka waktu pribadi bersama orang tua. Biarkan mereka menentukan aktivitas yang ingin dilakukan. Berikan mereka hak untuk memilih yang setara.
- Ajak mereka merefleksikan perasaan. Jadi fasilitator yang bisa meningkatkan rasa cinta antar saudara dan tanyakan emosi yang mereka alami.
- Jika terjadi kekerasan fisik, pisahkan mereka hingga emosi mereda. Lalu ajak mereka berdiskusi dengan kepala dingin.
- Tanamkan prinsip negosiasi dan kompromi (win win solution). Tanamkan prinsip mau menunggu dan kesabaran.
- Validasi emosi mereka dan tidak langsung berfokus pada perselisihan.
Wah! Menarik sekali ya dinamika siblings rivalry ini. Bukan hanya sekedar perselisihan, tapi begitu kompleks dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Dengan bimbingan yang tepat, konflik ini bisa menjadi jalan untuk melatih kemampuan negosiasi, empati dan resolusi masalah yang krusial untuk masa depan mereka.
Ngomong-ngomong soal conflict resolution… Tahukah kamu bahwa salah satu cara paling efektif mengajarkan anak bernegosiasi, berbagi, dan mengelola emosi adalah lewat bermain bersama?
Di Kayross Psikologi, kami percaya bahwa playing is a serious business. Aktivitas fisik bersama seperti berlari, bermain peran, atau olahraga ringan hingga board game bukan sekadar hiburan. Ini adalah media belajar yang powerful untuk membangun keterampilan sosial-emosional anak : belajar bergiliran, bernegosiasi, mengelola rasa frustrasi, dan merayakan pencapaian saudara mereka tanpa rasa iri.
Ketika kakak dan adik bermain dalam satu tim atau bahkan bersaing secara sehat dalam aturan yang jelas, mereka sedang melatih hal yang sama yang dibutuhkan orang dewasa di tempat kerja dan dalam hubungan: empati, regulasi emosi, dan komunikasi. Jadi, salah satu langkah paling sederhana yang bisa orang tua lakukan hari ini adalah ajak mereka main bareng. Konsisten. Terstruktur. Dan hadir sepenuhnya.
Namun, apabila konflik antar saudara mulai terasa sulit ditangani, sering memicu ledakan emosi, atau memengaruhi keseharian anak dan keluarga, orang tua juga dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat dibantu memahami emosinya, belajar menyampaikan kebutuhan dengan sehat, serta membangun hubungan yang lebih positif dengan saudaranya.
(By: Nathania Bianca, M.Psi., Psikolog)
