Tabu Tapi Perlu Tahu: Mengenal Gangguan Seksual

Berbicara mengenai seksualitas, pembicaraan soal seksualitas masih kerap dianggap tabu dalam budaya Indonesia. Masih banyak orangtua yang menutup obrolan-obrolan seputar seks maupun edukasi seks. Tidak banyak juga orang yang bisa terbuka untuk membahas permasalahan tentang seksualitasnya. Namun hal seksualitas tidak bisa dihindari, karena kebutuhan seks adalah salah satu kebutuhan dasar manusia.

Kebutuhan ini berada dalam kebutuhan dasar (Physiological needs) menurut teori Motivasi dari Maslow, serta digerakkan oleh libido (energi seksual) yang ada pada manusia menurut Sigmund Freud. Oleh sebab itu, tidak salah bila kita mengenal perilaku seksual dan masalah yang ada, karena ternyata masalah seksual bisa juga berakar dari masalah yang kita hadapi sehari-hari.

Pertama, kita harus bedakan dulu antara disfungsi seksual dan gangguan perilaku seksual. Disfungsi seksual artinya ketidakmampuan seseorang untuk merespon sehingga seseorang kesulitan mendapatkan kepuasan seksual (DSM V). Hambatan dalam relasi seksual ini biasanya ada pada fase-fase seksual. Fase seksual adalah sebuah model perubahan antara kebutuhan fisik dan emosional yang dialami dalam sebuah hubungan seks.

Biasanya pria dan wanita memiliki fase-fase seperti libido (desire, keinginan), arousal (excitement), orgasme dan resolusi. Beberapa disfungsi seksual misalnya terjadi pada desire (kurangnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual), pada pria misalnya ejakulasi dini dan kesulitan orgasme pada wanita (Cleveland Clinic, 2021). Banyak faktor yang menyebabkan disfungsi seksual, seperti misalnya kondisi sakit atau fisik tertentu maupun karena efek samping obat-obatan tertentu. Apabila Anda mengalami disfungsi seksual, jangan ragu untuk mengkonsultasikannya kepada profesional agar bisa segera ditangani dan tidak terjadi kerenggangan dalam rumah tangga.

Sedangkan gangguan perilaku seksual, yang seringkali disebut dengan parafilia artinya adalah beberapa perilaku tidak umum untuk mendapatkan kepuasan seksual. Hal ini lebih banyak melibatkan gangguan emosi yang didorong dengan adanya fantasi-fantasi tertentu, yang terjadi paling sedikit selama 6 bulan, dan hal ini sudah menyebabkan masalah dalam fungsinya sehari-hari.

Gangguan perilaku seksual dapat dikelompokkan dalam perilaku-perilaku sebagai berikut:

1. Voyeurism (mengintip). Kepuasan seksual didapat dengan melihat orang lain tanpa busana, maupun melihat aktivitas seksual orang lain.

2. Exhibionism (menunjukkan). Seseorang cenderung menunjukkan alat genital nya kepada orang lain, tanpa perlu kenal dengan orang tersebut, untuk mendapatkan kepuasan seksualnya.

3. Frotteurism. Mendapatkan kepuasan seksual dengan menggesekan atau menyentuh orang lain alat genitalnya.

4. Masochism. Mendapatkan kepuasan seksual saat dirinya dipermalukan, dipukul, atau menderita saat berhubungan seksual.

5. Sadism. Melakukan kekerasan fisik kepada pasangan agar mendapatkan kepuasan seksual.

6. Pedophillia. Memiliki gairah seksual kepada anak-anak, biasanya pada anak usia 13 tahun ke bawah, sedangkan ia sendiri berusia 16 tahun ke atas atau 5 tahun lebih tua dari korbannya. 

7. Fetishism. Kepuasan seksual didapat melalui benda-benda mati seperti celana dalam, maupun  misalnya melakukan hubungan seks dengan orang yang tidak sadar atau orang berkemih.

8. Trasvetism. Membangkitkan gairah seksualnya dengan cara menggunakan pakaian lawan jenis.

9. Gangguan parafilia lainnya, seperti misalnya scatologia (gairah karena bertelepon), zoophilia (terhadap binatang), coprophilia (terhadap feses) dan lain sebagainya.

*Hampir sebagian besar parafilia diderita kaum pria, kecuali gangguan masokisme.

**Apabila seseorang didiagnosa menderita parafilia, treatment yang didapat bisa berupa psikoterapi maupun medikasi.

Berbagai faktor dapat berkontribusi menyebabkan parafilia, seperti faktor biologis, faktor psikologis dan sosial. Pada faktor biologis, ada aktivitas otak tertentu saat gairah seksual dirasakan yang mendorong seseorang melakukan berbagai jenis parafilia. Sebagai informasi, para ahli menemukan bahwa skor intelegensi pria pelaku parafilia biasanya lebih rendah dan punya masalah kesulitan belajar selama mengenyam pendidikan.

Pada faktor psikologis dan sosial, sebuah studi yang dilakukan oleh Lee, Jackson, Pattison & Ward (2002), menemukan bahwa masalah disfungsi dalam keluarga maupun kekerasan seksual yang dialami saat masa kecil, menjadi faktor penyumbang perilaku parafilia ini. Hal ini menjadi faktor resiko bagi munculnya perilaku parafilia. Pengalaman dan perkembangan psikologis di masa kanak-kanak berdampak pada pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Trauma masa kecil, apapun bentuknya juga bisa memengaruhi emosi dan perilaku seseorang.

Sebut saja pelecehan seksual (dengan segala tingkatannya mulai dari kecil ke besar), anak melihat aktivitas seksual orangtua atau bentuk disfungsi keluarga lainnya seperti perselingkuhan orangtua, perceraian dan sebagainya bisa berdampak pada perkembangan seksual anak. Dalam psikologi perkembangan psikoseksual oleh Sigmund Freud, perilaku seksual seseorang sudah dimulai perkembangannya sejak masa kanak-kanak.  Oleh sebab itu, keluarga memiliki peranan yang amat penting guna membimbing anak-anak dan remaja untuk menciptakan orang dewasa yang sehat secara mental.

Sebagai orang tua, apabila Anda merasa mengalami masalah dalam kehidupan keluarga, segera cari bantuan, sehingga Anda bisa menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. Dalam jangka panjang Anda bisa menghasilkan generasi yang lebih sehat dan resilien menghadapi tantangan, serta bisa membentuk perilaku yang sehat dalam seksualitas.

Apabila Anda pernah mengalami kekerasan seksual maupun masalah dalam seksualitas, segera cari bantuan profesional yang sesuai, agar bisa mendapatkan psikoterapi maupun farmakologi yang diperlukan. Kayross Psikologi Utama memiliki psikolog klinis yang dapat memberikan jasa psikoterapi untuk Anda yang membutuhkan bantuan.

Mari bersama-sama meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental, menciptakan lingkungan sosial yang sehat di manapun kita ada agar hidup bisa lebih bermakna. Salam sehat mental dan biasakan selalu berpikir positif.

(By: Ellia Feeber, M.Psi., Psikolog.)

Sumber:

1. DSM V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) 5th ed, American Psychiatric Association, 2013.

2. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9121-sexual-dysfunction

3. https://www.medicinenet.com/paraphilia/article.htm

4. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11865823/ (Developmental risk factors for sexual offending Joseph K P Lee , Henry J Jackson, Pip Pattison, Tony Ward, 2002)