Apakah Penyandang Autisme Tidak Memiliki Masa Depan?

Sering kita mendengar istilah “Autisme” ini di lingkungan sosial. Bahkan seringkali beberapa orang menggunakan kata ini untuk menggambarkan kondisi orang lain yang sedang sibuk atau terlalu fokus dengan gawainya. Sebelum kita dengan mudahnya mengatakan “autis banget lu” ke orang lain, sebaiknya kita kenali dulu dengan baik kondisi Autisme ini.

Apa sih Autisme?

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke 5 (2013), Autism Spectrum Disorder (Gangguan Spektrum Autisme) adalah istilah untuk sekelompok gangguan perkembangan individu. Istilah ‘spektrum’ sendiri mengacu pada berbagai gejala, kekuatan dan tingkat kerusakan yang dapat dimiliki oleh individu dengan Autisme. Tiap individu yang memiliki gangguan Autisme tidak selalu memiliki gejala yang sama, namun ada karakteristik yang umum dimiliki oleh individu dengan Autisme. Beberapa karakteristik tersebut adalah:

  • Anak memiliki masalah terus menerus dalam berkomunikasi dan interaksi sosial, di berbagai situasi (termasuk jika terjadi hanya di masa kecil)
  • Adanya perilaku yang kaku dan repetitif atau pengulangan (baik dalam gerakan tubuh, kegiatan atau minat terhadap benda)
  • Karakteristik tampil pada masa perkembangan anak usia dini
  • Karakteristik tersebut menyebabkan individu kesulitan dalam kehidupan bersosialisasi, bekerja atau fungsi area lainnya
  • Gangguan ini tidak disebabkan adanya Disabilitas Intelektual atau Gangguan Perkembangan Keseluruhan

Gangguan Autisme ini memiliki 3 level berdasarkan tingkat keparahannya. Pada Autisme level 1, anak atau individu dapat dilatih untuk kegiatan keseharian dan hanya membutuhkan sedikit bantuan dari orang tua atau orang sekitarnya. Pada Autisme level 2, anak atau individu perlu terapi secara berkala dan membutuhkan bantuan orang tua atau orang sekitarnya dalam keseharian. Pada Autisme level 3, anak atau individu akan sangat membutuhkan terapi secara rutin dan bantuan dari orang tua atau orang sekitarnya dalam kegiatan keseharian.

Pada tahun 1994 terdapat Sindrom Asperger yang memiliki karakteristik serupa dengan gangguan Autisme dan dikategorikan sebagai salah satu gangguan perkembangan dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) edisi ke 4. Namun, pada buku DSM edisi ke 5, Sindrom Asperger berada di bawah naungan Autisme yang dikategorikan sebagai Autisme level 1. Pada dasarnya seorang individu dengan Sindrom Asperger memiliki kemampuan verbal yang masih memadai untuk berkomunikasi 2 arah dan tingkat inteligensinya minimal berada di taraf rata-rata. Hanya saja, mereka kesulitan dalam berinteraksi sosial, memiliki minat yang terbatas, cenderung kaku dan sulit untuk bekerja sama dengan orang lain.

Apa yang dapat dilakukan untuk membantu individu dengan Autisme?

Poster Film Temple Grandin

Apabila orang tua dapat mendeteksi atau mengenali karakteristik Autisme pada anak sejak dini, tentu anak akan mendapatkan penanganan yang tepat lebih cepat. Individu yang lahir dengan gangguan Autisme perlu mendapatkan terapi wicara dan terapi sensori integrasi untuk membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan sosialisasinya. Bukan hal yang mustahil bagi individu dengan Autisme untuk berkontribusi di masyarakat luas saat dewasa.

Banyak contoh nyata individu dengan Autisme yang sukses berkontribusi di masyarakat. Misalnya saja, Temple Grandin yang berhasil menjadi seorang profesor di bidang ilmu hewan dan penulis buku (dalam health.detik.com, 2013).  Ada juga Stephen Wiltshire, seorang penyandang Autisme dari Inggris yang berprofesi sebagai arsitektur yang mampu menggambar tata kota secara detail dengan satu kali melihat (dalam stephenwiltshire.co.uk). Masih banyak penyandang Autisme lainnya yang sukses berkontribusi di masyarakat sesuai bidang keahliannya. Hal ini membuktikan bahwa individu dengan Autisme juga dapat berfungsi baik di masyarakat, asalkan orang tua atau orang di sekitarnya dapat mengenali karateristik lebih awal dan memberikan penanganan yang tepat.  

Stephen Wiltshire

Banyak orang awam melihat anak atau individu dengan Autisme mengkategorikannya sebagai anak yang hiperaktif dan kurang fokus, atau yang disebut sebagai Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD). Walaupun individu dengan gangguan Autisme dapat juga memiliki ADHD, belum tentu individu dengan ADHD/ADD memiliki gangguan Autisme. Tentunya tidak mudah menegakkan diagnosa pada anak atau individu. Perlu dilakukan observasi, wawancara dan serangkaian tes pada anak atau individu untuk dapat menegakkan diagnosa. Oleh karena itu, diagnosa hanya dapat dilakukan oleh profesional seperti dokter anak, psikiater dan psikolog. Apabila Anda atau kerabat membutuhkan bantuan psikolog untuk mendiagnosa, hubungi Kayross Psikologi Utama dan kami siap membantu.

(By: Luisa Munster, M. Psi., Psikolog)

Sumber:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorder (DSM) V, (5th Ed). Washington DC: APA.

7 Kisah Sukses Penyandang Autis Paling Terkenal di Dunia. (2013). Diunduh dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2209176/7-kisah-sukses-penyandang-autis-paling-terkenal-di-dunia/3/#news

https://www.stephenwiltshire.co.uk/