“Bukan aku yang ambil cokelatnya, Bu!” teriakan itu terdengar dari salah satu anak yang sedang mengantri di kasir supermarket.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, namun bagi orang tua yang menemukan sebungkus cokelat di dalam saku celana anaknya atau bahkan melihat langsung ketika seorang anak memasukkan cokelat ke dalam sakunya, kalimat seperti ini bisa memunculkan banyak pertanyaan: “Mengapa anakku berbohong? Apakah ia sengaja membohongi ibunya? Apakah ini berarti ia mulai menjadi anak yang tidak jujur?”
Secara sederhana, berbohong dapat dipahami sebagai penyampaian informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, tujuan seseorang menyampaikan informasi tersebut, khususnya anak-anak menjadi penting. Kita perlu menganalisa apakah ketika seorang anak menyampaikan sesuatu yang mengandung kebohongan dilakukan karena ia salah mengingat, sedang berimajinasi, atau ada hal lain dibalik itu.
Dalam psikologi perkembangan, kebohongan perlu dibedakan dari fantasi atau permainan pura-pura. Penelitian menunjukkan bahwa anak prasekolah sebenarnya sudah memiliki kemampuan yang cukup berkembang untuk membedakan realitas dan fantasi, meskipun kemampuan tersebut masih dapat dipengaruhi oleh konteks, emosi, dan karakteristik pengalaman yang sedang dibicarakan (Sharon & Woolley, 2004). Dengan demikian, tidak setiap pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya dapat langsung dikategorikan sebagai kebohongan.
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan subyek anak berusia 3-7 tahun, ditemukan bahwa kemampuan anak dalam menyampaikan kebohongan berkembang seiring bertambahnya usia (Talwar & Lee, 2002). Kemampuan berbohong melibatkan kemampuan kognitif dan sosial anak. Anak perlu memahami bahwa orang lain dapat memiliki pengetahuan atau keyakinan yang berbeda dari dirinya, menahan informasi yang sebenarnya ingin disampaikan, serta menyusun respons yang dapat memengaruhi keyakinan orang lain (Talwar & Lee, 2008).
Lalu, mengapa anak berbohong?
Tidak ada alasan tunggal untuk menjelaskan apa yang membuat anak menyampaikan kebohongan. Kita perlu memperhatikan konteks dan tujuan perilakunya. Umumnya, berikut ini beberapa hal yang melatarbelakangi seorang anak menyampaikan kebohongan:
- Menghindari konsekuensi atau hukuman
Umumnya, anak akan berpikir untuk berbohong apabila menurutnya mengatakan sesuatu yang sebenarnya akan membuatnya dimarahi atau dihukum. Penelitian yang dilakukan oleh Talwar, Arruda dan Yachison (2015) menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap hukuman dapat memengaruhi kecenderungan anak untuk mengatakan yang sebenarnya.
- Mendapatkan sesuatu yang diinginkan
Pernahkah kita mendapati seorang anak berbohong agar mendapatkan hadiah, perhatian, pujian, atau sesuatu yang menguntungkan dirinya? Misalnya, seorang anak mengatakan bahwa ia menjadi juara kelas, padahal sebenarnya ia mendapatkan peringkat terakhir. Kebohongan dalam konteks ini bersifat instrumental karena digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu.
- Menjaga perasaan orang lain
Kebohongan yang disampaikan anak belum tentu sepenuhnya bertujuan untuk sesuatu yang bersifat negatif atau merugikan. Seiring dengan berkembangnya pemahaman sosial anak, anak juga dapat menggunakan kebohongan untuk menjada perasaan orang lain. Misalnya, ketika anak mengatakan bahwa hadiah yang diberikan temannya bagus meskipun sebenarnya ia tidak menyukainya.
- Menguji batas dan memahami aturan sosial
Anak dapat mencoba mengatakan sesuatu yang tidak benar untuk melihat bagaimana orang dewasa bereaksi. Dalam proses ini, anak sedang belajar mengenai konsekuensi sosial dari informasi yang disampaikan kepada orang lain.
Bagaimana orang tua dapat menyiasati perilaku berbohong yang ditampilkan anak?
- Pisahkan perilaku dari label, hindari menyebut anak sebagai “pembohong”
Pada saat anak menyampaikan kebohongan, fokuskan pada perilakunya. Sampaikan pada anak bahwa apa yang ia ceritakan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Hindari memberikan label negatif pada anak seperti “pembohong” atau “nakal” karena dapat membuat anak merasa identitas dirinya sedang dinilai, bukan perilakunya yang sedang diperbaiki.
- Berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan apresiasi kejujurannya
Jika anak berani mengakui kesalahan atau berkata jujur, ciptakan suasana yang aman dengan memberikan respon yang netral dan apresiasi kejujurannya. Hindari memarahi anak secara reaktif.
Meskipun demikian, ini bukan berarti anak terhindar dari konsekuensi atas perilakunya. Orang tua dapat mengajak anak berpikir tentang apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya.
- Bekali anak dengan alternatif perilaku yang dapat digunakan
Ketika anak berbohong karena takut dimarahi, orang tua dapat mengajarkan anak alternatif berpikir seperti, “Aku takut Mama marah, tapi aku mau ceritakan yang sebenarnya”. Atau, pada saat anak berbohong karena ingin mendapatkan sesuatu, ajarkan ia untuk menyampaikan secara langsung dan asertif.
- Jadilah role model kejujuran
Anak bukan hanya belajar dari nasihat yang kita berikan, melainkan juga meniru perilaku yang mereka amati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak memperhatikan kesesuaian antara pesan orang tua tentang kejujuran dan perilaku yang mereka contohkan dalam kehidupan sehari-hari (Belanger, Crossman, & Talwar, 2026).
- Perhatikan pola perilaku
Ketika anak menyampaikan kebohongan satu atau dua kali, belum tentu menandakan adanya masalah psikologis. Orang tua dapat melakukan evaluasi ketika perilaku berbohong ditampilkan secara sering atau anak menggunakan kebohongan sebagai pola utama ketika berhadapan dengan berbagai situasi.
Perilaku berbohong pada anak merupakan fenomena yang perlu dipahami dalam konteks perkembangan, di mana keberadaan perilaku tersebut tidak otomatis membuat kita menyimpulkan bahwa anak memiliki masalah moral atau psikologis. Sebagai orang tua, penting bagi kita untuk memahami fungsi dibalik perilaku yang ditampilkan anak dan merespons secara tepat. Kita dapat mendampingi anak untuk belajar bahwa mengatakan kebenaran merupakan pilihan yang aman dan bertanggung jawab, serta kesalahan dapat diperbaiki. Dengan demikian, pembelajaran mengenai menyampaikan sesuatu secara jujur menjadi bagian dari perkembangan regulasi diri dan kematangan sosial anak.
Kapan perlu mencari bantuan professional?
Apabila perilaku berbohong yang ditampilkan anak muncul dengan sering dan menetap, sulit dikendalikan meskipun anak sudah memahami konsekuensinya, atau disertai dengan masalah lainnya seperti konflik sosial yang berat, kesulitan meregulasi emosi, atau gangguan fungsi adaptif sehari-hari, maka konsultasi dengan profesional dapat menjadi pertimbangan orang tua, seperti psikolog di Kayross Psikologi. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi bit.ly/informasikayross.
(By : Sila Paramita, M.Psi., Psikolog)
Sumber:
Belanger, E., Crossman, A. M., & Talwar, V. (2026). Practice what you preach? Children’s evaluations of parents’ verbal messages and social modeling of honesty and lie-telling. Journal of Experimental Child Psychology, 268, 106528. https://doi.org/10.1016/j.jecp.2026.106528
Sharon, T., & Woolley, J. D. (2004). Do monsters dream? Young children’s understanding of the fantasy-reality distinction. British Journal of Developmental Psychology, 22(2), 293–310. https://doi.org/10.1348/026151004323044627
Talwar, V., & Lee, K. (2002). Development of lying to conceal a transgression: Children’s control of expressive behaviour during verbal deception. International Journal of Behavioral Development, 26(5), 436–444. https://doi.org/10.1080/01650250143000373
Talwar, V., & Lee, K. (2008). Social and cognitive correlates of children’s lying behavior. Child Development, 79(4), 866–881. https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.2008.01164.x
Talwar, V., Arruda, C., & Yachison, S. (2015). The effects of punishment and appeals for honesty on children’s truth-telling behavior. Journal of Experimental Child Psychology, 130, 209–217. https://doi.org/10.1016/j.jecp.2014.09.011



