Sebagai perempuan, kita sering dituntut untuk selalu lembut, berbaik hati, dan menolong orang lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang salah, namun akan menjadi perhatian bila “sikap baik” yang ditampilkan justru membuat perempuan kehilangan dirinya sendiri. Sering kali perempuan menjadi terpaksa untuk menuruti keinginan orang lain karena ada batasan norma dan standar sosial yang harus dipenuhi. Fenomena ini disebut juga dengan “the good girl syndrome.”

Nah sebelum membahas lebih dalam, coba cek diri sendiri apakah kamu mengalami syndrome ini? Berikut adalah tanda-tanda dari the good girl syndrome :
- Sulit mengatakan “tidak” atau menolak permintaan orang lain.
- Takut membuat orang lain kecewa.
- Merasa dituntut untuk selalu berprestasi.
- Terpaksa melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang lain.
Jika kamu merasa memiliki tanda-tanda di atas, bisa jadi kamu mengalami syndrome ini.
Akar Fenomena The Good Girl Syndrome
Secara historis, norma dalam masyarakat menggunakan peran gender yang menentukan perilaku perempuan. Perempuan dituntut untuk menjadi “good girl” yang selalu membantu tanpa pamrih, dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Stereotip ini bukan hanya peninggalan budaya tetapi juga pengaruh yang terus berlanjut hingga saat ini.
- Asal-usul Sejarah dan Budaya
The good girl syndrome berakar kuat pada bias gender yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Dongeng dan cerita rakyat selalu menggambarkan perempuan harus mengikuti aturan tertentu untuk memenuhi ekspektasi sosial. Hal ini membatasi pertumbuhan pribadi perempuan dan menanamkan pola perilaku yang memprioritaskan kebahagiaan dan penerimaan orang lain daripada diri sendiri.
- Dinamika Keluarga dan Sistem Pendidikan
Dalam keluarga stereotip ini ditanamkan sejak usia dini, di mana anak perempuan yang sering kali dibatasi untuk berpendapat dan dipuji karena menurut, sehingga menumbuhkan rasa takut akan penolakan dan kritik. Sistem pendidikan juga memperkuat hal ini dengan menghargai anak yang patuh dan menanamkan rasa takut akan penilaian orang lain.
- Pengaruh Media
Dari iklan hingga acara televisi dan film, sering kali versi ideal dari perempuan adalah perempuan yang sanggup berkorban dan merawat orang lain, secara halus menanamkan “the good girl syndrome”. Penggambaran ini menetapkan standar sosial yang diharapkan dipenuhi oleh perempuan.
Dampak Psikologis “The Good Girl Syndrome”
Kondisi psikologis perempuan dengan the good girl syndrome sering kali dipenuhi dengan tantangan kesehatan mental yang kompleks.
A. Gangguan Kesehatan Mental

Perempuan dengan syndrome ini akan diliputi oleh rasa cemas dan takut karena mengecewakan orang lain atau melanggar “aturan” yang ada. Selain cemas, perempuan juga dapat menjadi rendah diri karena terus-menerus membandingkan diri dengan standar masyarakat yang sering kali tidak realistis.
B. Kesulitan Membangun Identitas Diri

Adanya kesenjangan antara diri yang sebenarnya dan yang ditampilkan akan menghambat pertumbuhan pribadi dan ekspresi diri. Perempuan juga mungkin mengabaikan minat dan perasaan agar tampak lebih diterima atau disayangi.
C. Dampak Terhadap Relasi Sosial

Perempuan akan sulit untuk menetapkan batasan yang sehat dalam membangun hubungan. Seperti ketergantungan berlebih terhadap pasangan dan sulit untuk menyampaikan kebutuhan dengan terbuka.
Cara Mengatasi The Good Girl Syndrome
Lantas, setelah mengetahui penyebab dan dampak dari fenomena ini, apa yang dapat dilakukan? Sebelum mencari tahu apa yang dapat dilakukan, terlebih dahulu kita harus mencari akar penyebab dari the good girl syndrome yang kita alami. Apakah oleh tuntutan norma sosial, keluarga, atau trauma masa lalu.
Jika merasa membutuhkan ruang untuk membahasnya lebih dalam, berbicara dengan profesional juga bisa membantu. Layanan konseling bersama psikolog di Kayross Psikologi dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memahami pola yang terbentuk dan menemukan strategi untuk keluar dari syndrome ini seperti dengan belajar untuk berkomunikasi asertif, menetapkan tujuan yang realistis, dan mengembangkan mindfulness serta self-compassion.
Info lebih lanjut, silakan hubungi: bit.ly/informasikayross
(By: Jiwika Mira Joice Hutajulu, M. Psi., Psikolog)
