
Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan setiap individu atau sekelompok masyarakat. Umumnya pendidikan dilakukan dalam bentuk pembelajaran di sekolah, baik formal atau non-formal. Pembelajaran di sekolah umumnya memiliki tolok ukur prestasi melalui tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun, kebanyakan orang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi tinggi artinya seseorang perlu memiliki kemampuan kognitif atau Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi. Kenyataannya tidak semua orang yang memiliki IQ tinggi akan memiliki prestasi belajar yang tinggi pula. Goleman (dalam Setyawan, Andoko Ageng dan Simbolon, 2018) berpendapat bahwa IQ hanya menyumbang 20% dari kesuksesan seseorang, sementara 80% adalah sumbangan dari faktor-faktor lain, yang di antaranya adalah kecerdasan emosional (EQ).
Apa Arti Kecerdasan Emosional ?

Istilah kecerdasan emosional pertama kali ditemukan tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire, untuk menjelaskan kualitas-kualitas emosional yang penting bagi keberhasilan. Kecerdasan emosional adalah kecerdasan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengendalikan emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Mengolah emosi berarti memahami kondisi emosi dan mampu mengkaitkannya dengan situasi yang dihadapi agar memberikan dampak positif (Saputri et al, 2024). Banyak penelitian yang membuktikan bahwa individu yang kurang memiliki kendali emosi akan kurang mampu mengendalikan moral dan motivasi di dalam diri (Chen, 2024; Martínez-Rodríguez, 2023; Mercader-Rubio, 2023; Nieto, 2024). Oleh karena itu, individu dengan kendali emosi yang kurang matang tentunya akan lebih sulit dalam berkonsentrasi ketika belajar.
Contoh sederhananya ketika seorang siswa tidak menyukai guru mata pelajaran Matematika. Saat siswa tersebut tidak dapat mengendalikan emosi negatifnya terhadap guru tersebut, maka ia akan kesulitan untuk berkonsentrasi mendengarkan penjelasan dari guru saat pelajaran Matematika. Pada akhirnya prestasi siswa tersebut di pelajaran Matematika bisa menjadi kurang optimal. Hal ini tentu perlu diwaspadai oleh orang tua dalam tumbuh kembang anak, agar anak memiliki kendali emosi yang matang sesuai dengan usia perkembangannya.
Gangguan Emosi Apa Saja yang Dapat Memengaruhi Proses Belajar Siswa?
Beberapa gangguan emosi yang dapat memengaruhi proses belajar siswa adalah sebagai berikut :
- Kecemasan : siswa yang mengalami kecemasan akan kesulitan untuk fokus pada kegiatan pembelajaran, karena pikiran mereka diisi oleh rasa khawatir yang terus menerus. Terutama jika sumber kecemasannya berasal dari lingkungan sekolah. Umumnya siswa yang cemas dapat terlihat dari perilaku tertentu, seperti misalnya sakit perut saat mau menghadapi ujian, merasa mual ketika harus presentasi atau lainnya.
- Depresi : kondisi ini dapat menghilangkan motivasi, energi dan minat untuk belajar. Umumnya siswa dengan kondisi ini tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal yang tadinya ia sukai, sehingga akhirnya dapat memengaruhi pada kegiatan belajarnya.
- Stres : Stres yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan berpikir, seperti dalam mengingat dan memecahkan masalah. Umumnya siswa dapat merasakan stres ketika dihadapkan dengan tugas yang terlalu banyak, sehingga akhirnya mereka kesulitan untuk mengingat informasi-informasi baru dan kebingungan untuk mengatur tugasnya.
Apa yang Dapat Dilakukan untuk Mencegahnya?

Penting sekali bagi orang tua untuk melatih pengendalian emosi pada anak sejak dini, yaitu sejak usia 0-1 tahun. Ketika anak mulai belajar mengenali dan menampilkan emosi (seperti senang, sedih, marah dan sebagainya) dari orang sekitarnya, orang tua perlu melakukan validasi emosi pada anak. Misalnya ketika anak menangis, orang tua dapat membantu dengan menjelaskan bahwa wajar saja jika menangis karena sedih. Berikan anak waktu untuk memproses emosi tersebut, kemudian bantu anak apa hal berikutnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi emosi itu. Misalnya dengan bercerita hal yang membuatnya sedih.

Pada saat anak masuk usia 3-5 tahun, ketika umumnya sudah lancar berbicara, maka saat itulah orang tua mulai melatih pengendalian emosi. Misalnya dengan belajar antre saat berbaris, mengucapkan kata maaf ketika melakukan kesalahan, serta ajak anak untuk mulai bertanggung jawab dengan tugas rumah yang dapat dilakukannya. Apabila hal ini dilakukan, maka anak dapat mengembangkan rasa empati dan belajar mematuhi peraturan di lingkungan sosial di tahap perkembangan selanjutnya.
Apabila individu sudah memasuki usia remaja dan dewasa, namun masih kesulitan untuk mengendalikan emosinya, maka dianjurkan untuk segera berlatih pengendalian emosi agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, baik di sekolah atau di tempat kerja. Jika kesulitan untuk melakukannya secara mandiri, maka hubungilah tenaga profesional seperti Psikolog, untuk mendapatkan pendampingan dalam pengendalian emosi.
(By : Luisa Munster, M. Psi., Psikolog)
Sumber :
Chen, X. (2024). The Relationship Between Emotional Intelligence, Mental Health, and the English Achievement of College Students Based on Big Data Statistical Analysis. International Journal of Web-Based Learning and Teaching Technologies, 19(1). https://doi.org/10.4018/IJWLTT.338716
Martínez-Rodríguez, A. (2023). Relationship between academic achievement and emotional intelligence in undergraduate and Master’s Degree students at the University of León. Revista Complutense de Educacion, 34(4), 795–807. https://doi.org/10.5209/rced.80128
Mercader-Rubio, I. (2023). Intrinsic Motivation: Knowledge, Achievement, and Experimentation in Sports Science Students—Relations with Emotional Intelligence. Behavioral Sciences, 13(7). https://doi.org/10.3390/bs13070589
Nieto, A. (2024). Identifying the role of emotional intelligence in achievement emotions and their effects on deep learning strategies in university students. Revista de Psicodidactica, 29(1), 47–56. https://doi.org/10.1016/j.psicod.2023.11.004
Saputri, R.E., Sari, F.A., Nurhidayah, F., Ramadani, R.A. 2024. “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Siswa”. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 2(1), 1-9. https://doi.org/10.47134/pgsd.v2i1.904
Setyawan, Andoko Ageng, and Dumora Simbolon. 2018. “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Smk Kansai Pekanbaru.” Jurnal Penelitian Dan Pembelajaran Matematika 11(1). doi: 10.30870/jppm.v11i1.2980.
